Apa itu spend analysis? Cara melihat ke mana sebenarnya uang perusahaan Anda mengalir


Tim procurement datang ke perundingan perpanjangan kontrak kurir dengan angka yang dikirim tim keuangan pagi itu: Rp610 juta sepanjang tahun lalu, yaitu total di akun vendor kurir tersebut. Mereka meminta tarif yang diberikan kurir kepada pelanggan dengan belanja di atas Rp1 miliar setahun, dan ditolak dengan sopan. Dengan Rp610 juta, kata account manager-nya, tarif yang sekarang sudah termasuk bagus.
Tiga minggu kemudian, seorang analis yang sedang menyusun anggaran tahun depan menemukan sisanya. Kurir yang sama punya dua data vendor lagi, dibuat oleh staf AP yang berbeda dengan nama yang sedikit berbeda. Satu perusahaan lain dalam grup juga memakai kurir itu tanpa kontrak, dengan tarif umum. Dan staf cabang mengirim paket dari loket kurir lalu mengklaimnya lewat laporan pengeluaran dan kartu kredit perusahaan, dengan kode “Perangko dan pengiriman” atau “Lain-lain”. Totalnya, perusahaan sudah membelanjakan Rp1,2 miliar di kurir itu. Kurirnya tahu. Tim procurement tidak.
Analisis pengeluaran (spend analysis) adalah cara menemukan Rp1,2 miliar itu sebelum perundingan, bukan sesudahnya. Panduan ini menjelaskan apa itu spend analysis, cara kerjanya, contoh kasus kurir tadi, mengapa spend analysis sering keliru dan cara memulai analisis yang tetap terkini.
Apa itu spend analysis?
Spend analysis adalah pekerjaan mengumpulkan semua pengeluaran perusahaan, dari setiap sumber dan setiap entitas, membersihkan dan mengelompokkannya, lalu melihatnya per vendor, per kategori dan per pihak yang membeli. Tujuannya adalah bertindak atas temuannya: menyatukan vendor, menegosiasikan harga, memindahkan pengeluaran ke dalam kontrak dan melihat pembelian yang melewati prosedur.
Hasilnya sering disebut kubus pengeluaran (spend cube): setiap baris pengeluaran diberi tanda siapa pemasoknya (vendor), apa yang dibeli (kategori) dan siapa yang membeli (cost centre, entitas atau proyek). Setiap pertanyaan tentang pengeluaran adalah satu irisan dari kubus itu.
Spend analysis mudah tertukar dengan tiga laporan yang sudah dibuat tim keuangan:
- Anggaran dibandingkan realisasi: menunjukkan apakah setiap cost centre membelanjakan lebih atau kurang dari rencana. Laporan ini tidak menunjukkan dari siapa mereka membeli atau dengan harga berapa.
- Beban per akun GL: mengelompokkan pengeluaran sesuai kebutuhan pembukuan, bukan sesuai cara perusahaan membeli. Satu akun “Beban kantor” bisa berisi kertas, sewa printer, jasa kebersihan dan mesin kopi.
- Laporan umur utang (AP ageing): apa yang Anda utang ke vendor hari ini. Spend analysis melihat apa yang Anda bayarkan kepada mereka selama setahun, termasuk pengeluaran yang tidak pernah melewati AP.
Cara kerja spend analysis
- Kumpulkan semua sumber. Invoice dan purchase order (PO) dari supplier, tetapi juga klaim karyawan, kartu kredit perusahaan, kas kecil dan setiap entitas di dalam grup. Dua belas bulan adalah rentang awal yang umum.
- Bersihkan data vendor. Gabungkan data yang sebenarnya perusahaan yang sama dengan nama atau kode berbeda, supaya setiap vendor muncul sekali, dengan satu total.
- Kelompokkan per kategori. Beri setiap baris kategori dari daftar pendek yang sesuai dengan cara perusahaan membeli (kurir, perangkat IT, kebersihan, perjalanan dinas), terpisah dari akun GL.
- Tambahkan siapa yang membeli. Cost centre, entitas dan proyek, ditambah apakah pembeliannya memakai kontrak atau PO.
- Iris sesuai pertanyaannya. Satu vendor di seluruh entitas, satu kategori di seluruh vendor atau satu cost centre di seluruh kategori.
Pertanyaan yang biasanya diajukan pertama kali:
- Siapa vendor terbesar kita, dan berapa bagian dari total pengeluaran yang dipegang 20 vendor teratas?
- Berapa vendor yang kita pakai per kategori? Sepuluh perusahaan kurir biasanya berarti sembilan terlalu banyak.
- Berapa pengeluaran yang memakai kontrak atau PO? Pembelian di luar kontrak dan prosedur yang disepakati sering disebut maverick spend, dan di situlah tarif umum dibayar.
- Apakah kita membayar harga berbeda untuk barang yang sama? Barang yang sama dengan harga berbeda di PO yang berbeda, atau jasa yang sama dengan tarif berbeda di entitas yang berbeda.
- Seberapa besar tail spend kita? Tail spend adalah daftar panjang vendor kecil yang jika dijumlahkan hanya mengambil porsi kecil dari pengeluaran, dan masing-masing terlalu kecil untuk dikelola sendiri-sendiri.
Contoh kasus: satu kurir, lima tempat
Setelah perundingan itu, analis menarik pengeluaran setahun dari semua sumber dan mencari kurir tersebut berdasarkan nama, NPWP dan rekening bank. Angka-angkanya hanya ilustrasi:
| Di mana pengeluaran kurir ditemukan (Rp juta) | Jumlah |
|---|---|
| Data vendor utama, kantor pusat | 610 |
| Dua data vendor lain, kantor pusat | 185 |
| Perusahaan lain dalam grup, tanpa kontrak | 240 |
| Klaim karyawan, cabang | 95 |
| Kartu kredit perusahaan, cabang | 70 |
| Total | 1.200 |
Analis lalu membandingkan berapa yang dibayar setiap bagian grup per kilogram untuk layanan paket yang sama:
| Pembeli | Pengeluaran (Rp juta) | Tarif per kg (Rp) |
|---|---|---|
| Kantor pusat, dengan kontrak | 795 | 10.000 |
| Perusahaan lain, tarif umum | 240 | 12.500 |
| Cabang, di loket | 165 | 15.000 |
| Total | 1.200 |
Yang ditunjukkan analisis itu kepada tim procurement:
- Perusahaan adalah pelanggan senilai Rp1,2 miliar, bukan Rp610 juta. Angka itu sudah di atas ambang Rp1 miliar untuk tarif yang diminta procurement.
- Rp103 juta dibayar di atas tarif kontrak. Dengan Rp10.000 per kg, 19.200 kg milik perusahaan lain dalam grup seharusnya berbiaya Rp192 juta, bukan Rp240 juta, dan 11.000 kg milik cabang Rp110 juta, bukan Rp165 juta. Itu belum termasuk tarif yang lebih baik untuk volume yang lebih besar.
- Sebagian besar perbaikannya ada di proses, bukan di negosiasi. Gabungkan tiga data vendor itu, perluas kontraknya ke perusahaan lain dalam grup dan buatkan akun di bawah kontrak itu untuk cabang, supaya paket yang dikirim dari loket memakai tarif perusahaan, bukan klaim pengeluaran.
Tim procurement membuka kembali perundingan dengan angka lengkapnya, sekaligus rencana memindahkan pengeluaran senilai Rp405 juta ke dalam kontrak.
Mengapa spend analysis sering keliru
- Data master vendor penuh duplikat. Dengan atau tanpa “PT”, dengan atau tanpa “Indonesia”, ditambah nama cabang: satu vendor menjadi tiga, dan tidak satu pun terlihat besar. Data ganda juga menyebabkan pembayaran ganda.
- Kategori yang sebenarnya akun GL. Akun menjelaskan sifat biaya untuk pembukuan, bukan apa yang dibeli. Dan pos “Lain-lain” yang besar justru menyembunyikan pengeluaran yang sedang Anda cari.
- Hanya AP yang dihitung. Klaim karyawan, kartu kredit dan kas kecil tidak diikutkan karena ada di sistem lain, padahal di cabang, merekalah sebagian besar pengeluaran untuk vendor tertentu.
- Satu entitas pada satu waktu. Setiap PT menganalisis pengeluarannya sendiri, sehingga tidak ada yang melihat bahwa tiga PT membeli dari supplier yang sama dengan tiga harga.
- Pengodean terburu-buru di akhir bulan. Saat AP memberi kode pada ratusan baris di minggu terakhir, kategorinya adalah apa pun yang paling cepat. Orang yang membeli tahu apa yang dibelinya, jadi beri kode saat ia mengajukan atau mengklaimnya.
- Proyek setahun sekali. Konsultan membersihkan datanya, laporannya mengesankan, dan pada kuartal berikutnya duplikat baru dan baris “Lain-lain” baru sudah muncul lagi.
- Temuan tanpa penanggung jawab. “Terlalu banyak vendor kurir” belum menjadi tindakan sampai ada orang yang ditunjuk untuk menyatukannya, dengan tenggat waktu.
Spend analysis di Indonesia
- Cocokkan vendor berdasarkan NPWP dan rekening bank. Nama bisa ditulis dengan banyak cara, sementara NPWP dan rekening bank jarang berubah. Cabang-cabang satu perusahaan bisa memakai NPWP yang sama, jadi periksa alamatnya sebelum menggabungkan dua data.
- Bandingkan jumlah sebelum PPN dan pemotongan pajak. PPN masukan yang bisa Anda kreditkan bukan biaya bagi perusahaan, sedangkan PPh 23 yang dipotong atas jasa tetap merupakan bagian dari harga vendor. Bandingkan setiap vendor dengan dasar yang sama, biasanya tanpa PPN dan sebelum pemotongan, supaya vendor jasa tidak terlihat lebih kecil dari yang sebenarnya.
- Faktur pajak sebagai pembanding. Faktur pajak yang Anda terima mencantumkan NPWP setiap vendor PKP dan jumlah yang ditagihkan, sehingga bisa dipakai untuk memastikan analisis tidak melewatkan vendor besar.
- Kas kecil dan kasbon. Di cabang, gudang dan lokasi proyek, sebagian besar pengeluaran lewat kas kecil dan kasbon. Ikutkan keduanya, dan selesaikan kasbon dengan struk yang mencantumkan nama vendor, supaya pengeluaran itu tidak luput dari analisis.
- Grup dengan beberapa PT. Banyak grup usaha di Indonesia menjalankan beberapa PT, masing-masing dengan pembukuannya sendiri. Spend analysis harus berada di atas semuanya, dengan satu daftar vendor untuk grup dan setiap baris tetap ditandai dengan entitas yang membayar.
Tanda spend analysis Anda perlu diperbaiki
Spend analysis Anda kemungkinan besar perlu diperbaiki jika beberapa hal berikut terasa akrab:
- Pagi ini tidak ada yang bisa menyebutkan berapa pengeluaran tahun lalu untuk vendor terbesar Anda.
- Tim procurement meminta total per vendor ke tim keuangan sebelum bernegosiasi, lalu menunggu berhari-hari.
- Vendor yang sama muncul dengan lebih dari satu kode vendor.
- “Lain-lain” adalah salah satu kategori terbesar Anda.
- Klaim karyawan, kartu kredit dan kas kecil tidak masuk hitungan.
- Setiap entitas melaporkan pengeluarannya di spreadsheet masing-masing.
- Tinjauan pengeluaran terakhir berupa proyek, bukan laporan bulanan.
Vendor selalu tahu berapa yang Anda belanjakan di tempat mereka. Spend analysis adalah cara Anda ikut tahu.
Cara memulai spend analysis
- Mulai dari satu pertanyaan. Dua puluh vendor teratas Anda, atau kategori yang kontraknya akan diperpanjang berikutnya. Jawaban pertama yang berguna membuka waktu untuk pertanyaan berikutnya.
- Tarik data 12 bulan dari semua sumber. Invoice AP, PO, klaim, kartu kredit dan kas kecil, dari setiap entitas, lengkap dengan nama vendor, NPWP, rekening bank, jumlah, tanggal, akun GL dan cost centre.
- Bersihkan data vendor lebih dulu. Gabungkan duplikat berdasarkan NPWP dan rekening bank, lalu cegah duplikat baru sejak awal dengan checklist onboarding vendor yang menandai NPWP atau rekening bank yang sudah terdaftar.
- Susun daftar kategori yang pendek. Misalnya 15 sampai 30 kategori dengan istilah yang dipakai pembeli, masing-masing dipetakan ke akun GL, dan aturan bahwa “Lain-lain” harus tetap kecil.
- Beri kode di sumbernya. Pengaju atau pengklaim memilih kategori dan cost centre saat mengajukan, bukan AP di akhir bulan, dan approver memeriksanya.
- Pantau empat angka. Pengeluaran untuk 20 vendor teratas, porsi pengeluaran yang memakai kontrak atau PO, jumlah vendor per kategori dan selisih harga untuk barang yang sering dibeli. Kebijakan PO menaikkan angka kedua seiring waktu.
- Beri setiap temuan penanggung jawab dan tenggat. Menyatukan vendor kurir sebelum akhir kuartal adalah tugas procurement, bukan satu baris di slide.
- Jadikan laporan bulanan. Irisan yang sama, diperbarui setiap bulan dan ditinjau di rapat yang sama, supaya penyimpangan terlihat dalam sebulan, bukan saat perpanjangan kontrak tahun depan.
Bagaimana Procapy membantu
Di Procapy, pengeluaran dikelompokkan saat terjadi, bukan dibersihkan setahun kemudian. Di Proca to Pay, pengeluaran dimulai dari vendor yang sudah disetujui, dan pengajuan pembelian diperiksa terhadap kebijakan dan anggaran sebelum menjadi komitmen, dengan cost centre, proyek dan kategori pengeluaran terisi otomatis. Di Capy Expense, ProcAI mengusulkan kategori, cost centre dan proyek dari setiap struk dan riwayat karyawan, dan pengeluaran kartu kredit diberi kode dan disetujui seperti pengeluaran lainnya. Procapy mengusulkan akun GL dan cost centre berdasarkan vendor, kategori dan riwayat, belajar dari koreksi tim Anda, dan memungkinkan tim keuangan mengunci pemetaan untuk vendor atau kategori tertentu.
Pengeluaran per cost centre, vendor, proyek, kategori dan entitas pun tersedia begitu transaksi disetujui, tanpa perlu menyusun spreadsheet lebih dulu. Total pengeluaran untuk setiap vendor ditampilkan lintas departemen, cost centre dan entitas, lengkap dengan selisih harga untuk item yang sama di berbagai purchase order, sehingga tim procurement masuk ke perundingan perpanjangan kontrak dengan angka keseluruhan di tangan. Grup melihat pengeluaran per negara, kategori, vendor dan cost centre secara berdampingan, dalam mata uang pelaporan dengan kurs yang Anda tentukan.
Dengan Proca Agents, laporan rutinnya pun tidak perlu disusun manual. Agent menyusun laporan seperti pengeluaran per cost centre dan paket tutup bulan sesuai jadwal, laporan ad hoc saat diminta, dan membuat draf ringkasan untuk manajemen langsung dari transaksinya. Tim Anda meninjau angkanya, bukan membangun spreadsheet-nya, dan setiap run dicatat di jejak audit yang sama dengan pekerjaan tim Anda sendiri. Halaman sumber daya tim keuangan membahas lebih lanjut. Jadwalkan sesi demo 30 menit, bawa bagan akun (chart of accounts) Anda dan laporan pengeluaran yang biasa diminta CFO, dan kami akan memetakan dari mana setiap angkanya berasal di Procapy.
